39 - Pakistan Terapkan Peraturan Baru Hukuman Pemerkosa

Pakistan Terapkan Peraturan Baru Hukuman Pemerkosa

Pakistan Terapkan Peraturan Baru Hukuman Pemerkosa – Pemerkosaan adalah suatu tindakan kriminal berwatak seksual yang terjadi ketika seorang manusia (atau lebih). Memaksa manusia lain untuk melakukan hubungan seksual dalam bentuk penetrasi vagina atau anus dengan penis.  Anggota tubuh lainnya seperti tangan, atau dengan benda-benda tertentu secara paksa baik dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.

Kasus pemerkosaan terhadap perempuan dan anak-anak merupakan masalah yang sering menjadi perhatian di Pakistan dan kasus sering tidak terselesaikan, yang menimbulkan rasa khawatir.

Untuk memberikan hukuman yang lebih berat dan menyelesaikan sidang tuntutan pada pelaku pemerkosa, pada Selasa (15/12) presiden Pakistan menandatangani peraturan baru untuk daftar club388 menghukum pemerkosa.

1. Sidang putusan bersalah harus selesai dalam empat bulan

Pada Selasa 15 Desember Presiden Arif Alvi telah menyetujui undang-undang baru anti pemerkosaan. Peraturan tersebut akan berlaku selama 120 hari dan akan menjadi peraturan tetap, bila di setujui parlemen.

Dalam peraturan baru tersebut akan di bentuk pengadilan khusus untuk mengadili kasus-kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak-anak, yang mengharuskan semua jalannya persidangan di selesaikan dalam waktu empat bulan.

Peraturan baru ini juga akan membentuk sel khusus untuk mempercepat proses kasus hukum, yang memberikan kekuasaan untuk campur tangan dan memerintahkan pemeriksaan medis korban pemerkosaan dalam waktu enam jam setelah kasus di laporkan. Para pelaku pelecehan seksual juga akan di simpan data kasusnya dalam databese nasional dan korban akan di lindungi indetitasnya. Kebiri kimia juga akan diberikan kepada pelaku yang telah berulang kali melakukan pelecehan.

Kebiri kimia dengan penggunaan obat untuk mengurangi hormon testosteron telah di berlakukan untuk pelaku pedofil di Indonesia sejak 2016 dan juga di Polandia sejak 2006. Hukuman untuk pemerkosa di Pakistan saat ini menghadapi hukuman antara 10 dan 25 tahun kurungan penjara atau hukuman mati. Kasus pemerkosaan berkelompok akan memperoleh hukuman mati atau penjara seumur hidup.

2. Pelaku pemerkosa di Paskistan sering lolos dari hukuman

Para pakar hukum, mengatakan bahwa kasus pemerkosaan di pakistan membutuhkan waktu sampai bertahun-tahun untuk di tuntut. Para pelaku juga sering lolos dari hukuman karena pengaruh politik, sehingga penyelidikan polisi menjadi salah. Adanya korupsi dalam pengadilan yang lebih rendah juga telah membantu para pelaku memperoleh putusan yang meringankan.

Karena hal tersebut membuat para perempuan di Pakistan enggan melaporkan pelecehan yang di alami, karena takut dipermalukan atau dianiaya oleh polisi atau bahkan kerabat mereka sendiri, pandangan masyarakat Pakistan sebagian besar hak tersebut konservatif.

Selain itu tes medis juga menjadi masalah, pada bulan lalu pemerintah provinsi Punjab, wilayah terpadat di Pakistan telah melarang penggunaan tes “dua jari” kuno dan invasif dalam pemeriksaan medis untuk menentukan apakah seorang wanita diperkosa. Tes dua jari juga di tentang oleh Kementerian hak asasi manusia federal.

3. Peraturan di terapkan setelah protes kasus pemerkosaan di bulan September

photo 1512235594642 3c465b4694b3 b0ddb29ced0d0386e2acf5cda1070f5a 930656ae727c267eef2d43c3debb4b74 - Pakistan Terapkan Peraturan Baru Hukuman Pemerkosa

Peraturan baru tersebut pada bulan lalu telah disetujui Perdana Menteri Imran Khan dan kabinetnya. Di setujuinya peraturan tersebut setelah desakan unjuk rasa terhadap kasus pemerkosaan di bulan September, yang menimbulkan unjuk rasa di seluruh Pakistan.

Kasus pemerkosaan di bulan september tersebut terjadi di kota Lahore, Punjab timur. Peristiwa itu terjadi menimpa seorang wanita yang keluar bersama kedua anaknya. Saat mobilnya kehabisan bensin, ia berada di jalan raya sepi dan kemudian meminta bantuan, tetapi justru di tarik keluar dari mobilnya dan di perkosa oleh dua orang pria.

Kedua pria tersebut kemudian di Tangkap, namun kemudian menimbulkan protes setelah penyidik ​​utama Umar Sheikh mengatakan wanita itu yang harus di salahkan atas pemerkosaan itu, ia mengatakan wanita itu seharunya berjalan di jalan yang lebih ramai pada siang hari dan memeriksa bensinnya sebelum berangkat.

Kasus tersebut mendapat dukungan dari Amnesty International yang memberikan pesan dukungan untuk para pengunjuk. “Ada terlalu banyak korban dan terlalu sedikit hukuman pelaku dalam sistem peradilan pidana yang di tandai dengan impunitas.”

Menurut laporan Human Rights Watch di 2019 menyebutkan bahwa korban pelecehan seksual sering di perlakukan tidak adil.

“Kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, termasuk pemerkosaan, yang di sebut pembunuhan demi kehormatan, serangan asam, kekerasan dalam rumah tangga, dan pernikahan paksa, tetap menjadi masalah serius (di Pakistan). Aktivis Pakistan memperkirakan bahwa ada sekitar 1.000 pembunuhan demi ‘kehormatan’ setiap tahun.”

Pakistan negara yang tidak memberikan kesetaraan gender dengan baik. Pakistan menduduki peringkat ke-130 pada Indeks Ketidaksetaraan Gender UNDP dan peringkat 151, atau ketiga terakhir, pada Indeks Kesenjangan Gender Global dari Forum Ekonomi Dunia.