Korea Selatan Masuk Jurang Resesi Susul Singapura

Korea Selatan Masuk Jurang Resesi Susul Singapura

Korea Selatan Masuk Jurang Resesi Susul Singapura – Korea Selatan masuk ke jurang resesi pertama kalinya dalam 17 tahun terakhir. Resesi menghantam Negeri Ginseng akibat pandemi covid-19 karena anjloknya ekspor.

Bank of Korea mengumumkan pada Kamis, Produk Domestik Bruto (PDB) Korsel terjun 3,3 persen pada kuartal II atau periode April-Juni dibanding kuartal sebelumnya yang terkontraksi 1,3 persen.

Penurunan pertumbuhan ekonomi per kuartal ini bahkan menjadi yang terburuk setelah resesi 1998 silam.

Korea Selatan mengalami resesi sebagai dampak pandemik COVID-19 yang telah menginfeksi total lebih dari 15 juta orang dan menewaskan lebih dari 600 ribu lainnya di seluruh dunia.

Seperti dilaporkan BBC, Produk Domesti Bruto (PDB) negara dengan perekonomian terbesar keempat di Asia itu jatuh hingga 2,9 persen secara year-on-year. Ini merupakan kejatuhan terburuk sejak 1998.

Total kasus COVID-19 di Korea Selatan sendiri sampai kini mencapai hampir 14.000 dan ada sebanyak 297 orang yang meninggal karenanya.

Ekspor terjun bebas 16,6 persen atau tercuram sejak 1963 silam. Sementara, impor terjungkal sebesar 7,4 persen. Namun, konsumsi rumah tangganya naik 1,4 persen karena pengeluaran yang lebih tinggi untuk barang tahan lama seperti mobil dan peralatan rumah tangga.

“Ekonomi Korsel telah turun sejak 2017 dan guncangan virus corona mempercepat perlambatan ekonomi,” tutur Direktur Bank of Korea Park Yang-Soo seperti dikutip dari Asia Nikkei.

Menteri Keuangan Hong Nam-Ki mengatakan penutupan ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya melumpuhkan jalur produksi luar negeri Korsel ke Vietnam dan India.

Resesi juga terjadi sejalan dengan rencana Presiden Korea Selatan Moon Jae-In menaikkan pajak properti dan penjualan untuk menekan harga rumah, terutama di ibu kota Seoul.

Perekonomian Korea Selatan turun sebesar 3,3 persen

Berdasarkan data yang dirilis oleh Bank Korea, sejak kuartal pertama hingga Juni lalu, perekonomian Korea Selatan minus 3,3 persen. Ini merupakan penurunan terbesar sejak 1998. Sementara pada kuartal sebelumnya, terjadi kontraksi ekonomi sebesar 1,3 persen.

“Saat kami menawarkan proyeksi pertumbuhan kami pada Mei, kami mempunyai ekspektasi bahwa pandemik COVID-19 mulai melamban pada bagian kedua tahun ini, tapi kini kami ada di minggu kedua Juli, dan penyebaran penyakit justru mengalami akselerasi,” kata Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol pada Kamis 16 Juli 2020, seperti dikutip Fortune.

Ia mengatakan sebelumnya pihaknya memprediksi kontraksi year-on-year sebesar dua persen pada kuartal kedua, tapi rupanya angka sesungguhnya adalah 2,9 persen.

Pemerintah menggelontorkan Rp3.374 triliun untuk stimulus ekonomi selama pandemik COVID-19

Pemerintah Korea Selatan sejauh ini telah menggelontorkan dana sebesar Rp3.374 triliun sebagai stimulus untuk meredam dampak pandemik terhadap perekonomian. Pada saat bersamaan, Korea Selatan tidak pernah memberlakukan lockdown ketat, melainkan mengandalkan tes COVID-19 massal, pelacakan kontak dan karantina untuk menekan laju penyebaran virus.

Oleh karena itu, kabar resesi ini semakin terasa mengejutkan. Apalagi, konsumsi penduduk meningkat sebesar 1,4 persen pada kuartal kedua, tapi tak cukup untuk mengompensasi anjloknya ekspor negara tersebut. Pasalnya, ekspor Korea Selatan dalam masa normal adalah sebesar 40 persen dari pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal kedua, ekspor runtuh sebesar 16,6 persen, yang merupakan terburuk sejak 1963.