Hotman Paris Minta Nasabah Sinarmas Tetap Tenang

Hotman Paris Minta Nasabah Sinarmas Tetap Tenang

Hotman Paris Minta Nasabah Sinarmas Tetap Tenang – PT Sinarmas Asset Management ditetapkan Kejaksaan Agung menjadi satu dari 13 tersangka kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Namun, manajer investasi itu memastikan layanan untuk nasabah tak akan terganggu.

Pengacara Sinarmas Asset Management, Hotman Paris Hutapea menjelaskan produk reksa dana Simas Saham Ultima yang dikelola kliennya hanya dibeli Jiwasraya. Dengan demikian, hal tersebut tak mempengaruhi produk reksa dana lainnya.

“PT Sinarmas Asset Management mengelola 64 produk reksadana dengan total dana kelolaan sebesar Rp30,2 triliun, sementara kasus ini merujuk pada sebuah saja produk reksa dana, yakni Simas Saham Ultima, dengan total dana kelolaan hanya berjumlah 0,2 persen dibandingkan total kelolaan dana PT Sinarmas Asset Management. Dengan kata lain, tidak berdampak terhadap korporasi dan nasabah karena nilainya tidak signifikan,” ujar Hotman Paris dalam keterangan resmi, dikutip Jumat.

Kuasa Hukum PT Sinarmas Asset Management Hotman Paris Hutapea meminta publik tetap tenang dan tetap berinvestasi meski perseroan disebutkan menjadi salah satu dari 13 korporasi berstatus tersangka dalam kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Ia menyebutkan hingga kini kliennya belum menerima pemberitahuan resmi penetapan tersangka dari Kejaksaan Agung terkait kasus korupsi perusahaan asuransi pelat merah itu.

“PT Sinarmas Asset Management sebagai salah satu unit usaha di bawah pilar Sinar Mas Financial Services tetap memberikan pelayanan, serta selalu mengedepankan pemenuhan hak dan kepentingan seluruh nasabah,” kata Hotman Paris melalui siaran pers, Kamis, 25 Juni 2020.

Lebih jauh, Hotman Paris menyebutkan PT Sinarmas Asset Management atau Sinarmas AM akan bertanggung jawab sepenuhnya atas semua produk yang dipasarkan. Dengan begitu, nasabah tak perlu khawatir dan tetap dapat melakukan pembelian dan penjualan produk seperti biasa.

Horman Paris menjelaskan, produk reksa dana Simas Saham Ultima kelolaan Sinarmas Asset Management merupakan produk reksa dana yang dibeli oleh Asuransi Jiwasraya. Produk ini tidak terkait dengan produk reksa dana lain kelolaan perseroan.

Oleh karena itu, pengacara kondang itu meminta nasabah tetap tenang. Masyarakat juga diimbau tetap mempercayakan investasi reksadana yang dikelola Sinarmas Asset Management.

“Perusahaan bertanggung jawab sepenuhnya atas semua produk yang dipasarkan. Nasabah tidak perlu khawatir dan tetap dapat melakukan pembelian dan penjualan seperti biasa,” ucapnya.

Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Salah satu tersangka merupakan pejabat aktif di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain itu, Kejaksaan Agung juga menjerat 13 korporasi sebagai tersangka dalam perkara ini. Perusahaan-perusahaan itu merupakan manajer investasi yang diduga terlibat dalam pelarian uang nasabah.

Saat ini, kata Hotman Paris, PT Sinarmas Asset Management mengelola 64 produk reksa dana dengan total dana kelolaan sebesar Rp 30,2 triliun. Adapun kasus korupsi Jiwasraya merujuk pada salah satu produk saja, yakni Simas Saham Ultima yang secara nilai dana kelolaannya hanya mencapai 0,2 persen dari total dana kelolaan.

“Dengan kata lain, tidak berdampak terhadap korporasi dan nasabah karena nilainya tidak signifikan,” ucap Hotman Paris.

Hotman Paris menegaskan, PT Sinarmas Asset Management adalah lembaga keuangan yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan akan patuh terhadap regulasi serta perundangan-undangan yang berlaku. “Kami akan selalu kooperatif dan mengikuti proses hukum yang berlangsung,” katanya.

Sebelumnya diberitakan Kejaksaan Agung telah menetapkan 13 manajer investasi sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi Asuransi Jiwasraya. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Hari Setiyono mengemukakan bahwa 13 perusahaan tersebut telah berkontribusi merugikan keuangan negara hingga mencapai Rp 12,157 triliun dari total keseluruhan kerugian Rp 16,81 triliun pada kasus korupsi itu.