37 1 - AS Hukum Mati Pembunuh Brutal Yang membunuh Putrinya Sendiri

AS Hukum Mati Pembunuh Brutal Yang membunuh Putrinya Sendiri

AS Hukum Mati Pembunuh Brutal Yang membunuh Putrinya Sendiri – Kedekatan ayah dengan putri kecilnya tak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Namun, kamu bisa menggunakan kata-kata terkait kedekatan ayah dan anak perempuannya untuk caption media sosial. Ayah merupakan sosok kepala keluarga. Ia melakukan banyak hal untuk keluarga dan tidak peduli seberapa besar penderitaannya.

Seorang ayah juga menjadi sosok laki-laki yang pertama kali di cintai oleh putrinya. Tak jarang, kaum wanita memiliki kriteria cowok idaman untuk pasangan, seperti ayahnya sendiri. Ketika ingin berminat meminang hati wanita idaman, sosok yang pertama kali kamu temui adalah ayahnya. Jika kamu berhasil meyakinkan hati sang ayah, jalan ke depan akan terbuka lebar. Pasalnya, seorang ayah pasti tidak akan sembarangan memberikan sang gadis kesayangan kepada orang yang tidak tepat.

11 Desember 2020 adalah hari terakhir bagi Alfred Bourgeois. Pria berusia 56 tahun itu dieksekusi dengan cara deposit idn poker via dana suntik mati pada pukul 20:21 waktu setempat, di penjara federal, Terre Haute, Indiana. Bourgeois di duga kuat membunuh putrinya yang baru berusia dua tahun.

Pembunuhan yang di lakukan oleh Alfred Bourgeois terlihat menonjol dan brutal. Jaksa penuntut mengungkapkan fakta bahwa bocah berusia dua tahun itu, mendapatkan siksaan berupa cambukan dengan kabel listrik, kakinya di bakar dengan korek api, kepalanya di pukul dengan tongkat baseball plastik, dan di lecehkan secara seksual.

Pembunuhan bocah berusia dua tahun terjadi ketika perjalanan ke Corpus Christi, Texas. Bocah balita itu, meninggal di rumah sakit setelah kepalanya di hantamkan ke jendela dan dasboard truk sebanyak empat kali. Hakim menolak klaim cacat intelektual yang di derita Bourgeois pada tahun 2004. Pada 2020 ini, riwayatnya tamat di pembaringan dengan suntik pentobarbital.

1. Masih sempat mengangkat jempol setelah suntik mati di berikan

1607797237516 2d588b538864a3b2a1a0b557d321694d accb5bf2b2d3224ff60174fc5fc03a92 - AS Hukum Mati Pembunuh Brutal Yang membunuh Putrinya Sendiri

Pada masa-masa akhir keberadaan Donald Trump di Gedung Putih, dia akan menjadi Presiden Amerika Serikat yang paling produktif memberikan hukuman mati kepada terpidana dalam seratus tahun terakhir. Lima eksekusi lanjutan setelah Alfred Bourgeois, akan di langsungkan sebelum Joe Biden dilantik sebagai pengganti Trump.

Bourgeois menjadi terpidana mati ke sepuluh pemerintahan federal yang di hukum mati selama Trump berkuasa. Michael Tarm, reporter dari Associated Press melaporkan proses eksekusi mati itu dengan lumayan rinci. Ketika suntikan mati mulai mengalir dari infus ke kedua lengannya, dia memiringkan kepala, menoleh kepada penasehat spiritualnya dan memberi tanda jempol. Sang penasehat membalas dengan mengangkat ibu jarinya kepada Bourgeois .

Jum’at pagi, sebelum eksekusi mati di lakukan, Bourgeois telah bertemu dengan penasehat spiritualnya. Sang pengacara Shawn Nolan mengatakan bahwa Bourgeois telah “berdoa untuk penebusan”. Nolan mengatakan pemerintahan Trump tergesa-gesa melakukan hukuman mati. Biasanya, hukuman mati di beritahu 90 hari sebelum di lakukan, tetapi kali ini dengan alasan pandemi, Departemen Kehakiman memberi kabar tersebut dalam 21 hari.

2. Kata-kata terakhir Bourgeois dianggap mengungkapkan perasaan tidak menyesal

1607797113749 2d588b538864a3b2a1a0b557d321694d 35bcbf431d729322425ecbd0b8a5a15e - AS Hukum Mati Pembunuh Brutal Yang membunuh Putrinya Sendiri

Sisi yang paling menonjol dalam kejahatan yang di lakukan oleh Alfred Bourgeois adalah kebrutalan dan kekejamannya. Kemarahan Bourgeois adalah ketika pot toilet-training (latihan pipis) milik putrinya yang berusia dua tahun itu terbalik di kabin truknya. Gara-gara itu, dia marah lalu menghantamkan kepala anaknya ke jendela dan dasboard truk hingga menyebabkan si balita meninggal.

Kata-kata terakhir yang dia ucapkan sebelum eksekusi, di anggap oleh beberapa media seperti Associated Press dan NBC sebagai kata-kata terakhir yang mengungkapkan perasaan tidak menyesal. Bahkan menurut NBC, kata-kata terakhir itu terkesan menantang.

“Saya meminta Tuhan untuk mengampuni semua orang yang berkomplot dan bersekongkol melawan saya, dan menanamkan bukti palsu. Saya tidak melakukan kejahatan ini,” kata-kata terakhir Alfred Bourgeois sebelum disuntik mati (12/12).

Upaya eksekusi ini pernah di hentikan oleh pengacaranya berdasarkan Mahkamah Agung pada tahun 2002 mengenai kapasitas mental terdakwa. Sehari sebelum di lakukan eksekusi, pengacara juga meminta untuk menghentikan hukuman mati. Namun, Hakim Agung Sonia Sotomayor menulis “Pengadilan hari ini mengizinkan eksekusi Alfred Bourgeois untuk di lanjutkan meskipun Bourgeois, yang memiliki IQ antara 70 dan 75, berpendapat bahwa dia secara intelektual cacat di bawah standar klinis saat ini”, jelas Hakim Agung dalam pernyataan.

3. Kritik atas hukuman mati di Amerika Serikat

img 20201213 011238 2d588b538864a3b2a1a0b557d321694d 5d548f3aca800a052a79bbc352dc313e - AS Hukum Mati Pembunuh Brutal Yang membunuh Putrinya Sendiri

Sebelum Alfred Bourgeois, terpidana mati ke sembilan yang di eksekusi adalah Brandon Bernard yang berusia 40 tahun. Dia juga dihukum mati di penajra Terre Haute, Indiana. Bernard dijatuhi hukuman mati karena terlibat dalam penculikan dan pembunuhan pada tahun 1999. Saat itu Bernard masih remaja dan masih berusia 18 tahun. Eksekusinya menjadi eksekusi bersejarah karena dia termasuk terpidana paling muda ketika melakukan kejahatan.

Melansir dari laman BBC, banyak orang Amerika Serikat yang menyerukan penundaan atas hukuman mati Bernard. Bahkan, artis kondang Kim Kardashian juga membuat seruan langsung kepada Trump lewat akun media sosialnya, untuk mempertimbangkan hukuman mati (12/12). Namun, hukuman mati kepada Brendon Bernard tetap dilakukan.

Eksekusi mati dalam peralihan kekuasaan sangat jarang terjadi di Amerika Serikat. Trump yang mendukung hukuman mati dan Presiden pengganti, Joe Biden, yang berusaha menghapuskan hukuman mati, membuat para aktivis menilai keputusan eksekusi mati saat ini sangat bias.

Pada hukuman mati Bernard, lima dari sembilan juri yang masih hidup dalam kasus ini, serta pengacara yang membela hukuman mati di tingkat banding, secara terbuka menyerukan agar eksekusi Bernard dihentikan. Namun, hal itu rupanya tak cukup dan tak bisa menghentikan keputusan suntik mati terhadap Brendon Bernard.